Minggu, 17 November 2013

DR. Habib Ahmad bin Abdullah Al-Kaff, M.A. Ph.D

Syair Maulid Menyentuh Kalbu
“Dialah sosok yang sempurna makna dan bentuknya, yang kemudian dipilih menjadi kekasih Sang Penghembus Angin Sepoi. Pengungkapan kebaikannya terjaga dari kemusyrikan, maka mutiara keindahannya tak terbagi. Tinggalkanlah apa yang dikatakan kaum Nasrani tentang nabinya, dan pujilah ia (Rasulullah) semaumu asal masih dalam batasan hukum itu. Maka nisbahkanlah kemuliaan dan keagungan apa pun yang kau kehendaki kepadanya.”

Setiap bulan Maulid tiba, umat Islam pun bergembira menyambutnya. Di bulan inilah sang junjungan, Nabi akhir zaman dilahirkan. Kesukacitaan dan rasa syukur, diwujudkan dengan melaksana­kan ritual keagamaan. Sebuah tradisi agung yang bernama Maulid Nabi Mu­hammad SAW ini, dimaksudkan menge­nang sang Baginda Rasul berikut keuta­maan dan perjuangan beliau. Bentuk tra­disi yang berbeda di antara umat Islam, tak menyurutkan kekhidmatan yang ada.

Acara Maulid Nabi lazimnya diisi de­ngan shalawat dan pembacaan syair-syair berisi puji-pujian nan syahdu. Dalam perkembangannya, syair Maulid menga­lami banyak perkembangan. Zaman pun melahirkan banyak karya ulama besar yang berisi tentang Maulid.

Terkait dengan keindahan syair-syair pujian atas Rasulullah SAW, alKisah me­wawancai DR. Habib Ahmad bin Abdullah Al-Kaff, M.A. Ph.D, mubaligh yang di­kenal dengan kepiawaiannya menggu­bah karya-karya syair. Di sejumlah tem­pat, sudah menjadi kebiasaan, terutama pada beberapa tahun terakhir ini, ia di­daulat menyusun “syair dadakan”. Saat haul Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas, misalnya, ia menggubah syair in­dah tentang keutamaan kota Pekalong­an. Dalam waktu tak seberapa lama, ke­cerdasannya pun berpadu dengan kepia­waiannya dalam menyusun syair-syair berbahasa Arab, hingga menghasilkan syair nan indah lagi penuh makna.

Tentunya, tidak sembarang orang bisa menyusun syair begitu saja. Selain intuisi seni yang biasanya merupakan bakat alami seseorang, syair pun mem­pu­nyai rumusan-rumusan yang telah men­­jadi pakem bagi para penyair. Dan yang jelas, syair merupakan salah satu instru­men seni yang dapat mudah me­nyentuh kalbu orang yang mendengarnya.

Agar lebih jelas tentang keindahan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW, khususnya yang ada pada kitab-kitab Maulid, berikut ini sebagian hasil wawancara alKisah dengan Habib Ahmad. Begitu, ia biasa disapa.

Syair Detik-detik Maulid

Seluruh ungkapan dalam Maulid me­mang disusun dengan bahasa sastra yang sangat tinggi. Dalam disiplin ilmu balaghah (paramasastra bahasa Arab), penyimbolan dan metafora (tasybih) da­lam Maulid sudah masuk kategori baligh, tingkatan metafora tertinggi.

Sebagai contoh, setiap tahapan pen­ciptaan dan kelahiran Rasulullah, yang dipenuhi berbagai keajaiban dan peris­tiwa-peristiwa luar biasa, direkam dengan sangat baik oleh Syaikh Abdurrahman Ad-Diba’i dalam kitab Maulid hasil gu­bahannya. Ketika Nabi masih dalam kan­dungan,  ia melukiskan kondisi itu dengan sangat indah. Melalui bait-bait syairnya yang syahdu, saat itu dilukiskan dengan penggambaran yang gegap gempita dan agung, dengan sajak-sajak yang, dalam bahasa Arabnya, berakhiran huruf “ra” berharakat fathah.


Maka Arsy pun berguncang


penuh suka cita dan riang gembira


(Sementara) Kursi Allah bertambah wibawa dan tenang


Langit dipenuhi berjuta cahaya


Dan bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid (pengagungan Allah), dan istighfar


Detik-detik kelahiran Nabi dilukiskan se­bagai peristiwa luar biasa yang sarat ke­mukjizatan. Para penyusun Maulid pun berlomba mengabadikannya dengan rang­kaian kalimat indah yang tak ter­hing­ga nilainya.

Kitab Maulid Simthud Durar, karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, meng­gambarkannya dengan untaian kali­mat yang tak kurang indah…


“Dan tibalah saat yang tlah direncanakan Allah


bagi kelahiran ini


Menyingsinglah fajar keutamaan nan cerah


Terang benderang menjulang tinggi


Dan terlahirlah insan nan terpuji


Tunduk khusyu’ di hadapan Allah


Terang benderang menjulang tinggi…..”


Habib Ali juga menukil periwayat­an sahabat Abdurahman bin Auf RA, yang bersumber dari pengalaman ibu kan­dungnya, Syaffa’, yang berkisah, “Pada saat Rasulullah SAW dilahirkan oleh Aminah, ia kusambut dengan kedua telapak tanganku. Dan terdengar tangis­nya pertama kali. Lalu kudengar suara, ‘Semoga rahmat Allah atasmu.’ Dan aku pun menyaksikan cahaya benderang di ha­dapannya, menerangi timur dan barat, hingga aku dapat melihat sebagian ge­dung-gedung Romawi.”

Sedangkan kitab Maulid Al-Barzanji, salah satu kitab maulid yang paling po­puler dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Islam, menceritakan kondisi bayi Muhammad sesaat setelah kelahirannya, “Nabi lahir ke dunia dalam keadaan meletakkan kedua tangannya ke bumi seraya menengadahkan wajahnya ke arah langit yang tinggi sebagai penanda ketinggian kedudukannya dan keluhuran budinya.”

Demikianlah berbagai ungkapan ke­indahan pada detik-detik kelahiran Ra­sulullah SAW dalam puisi Maulid, karya ulama dari zaman ke zaman. Meski tiada kata yang cukup mewakili untuk meng­gambarkan keluhurannya, dengan segala keterbatasannya para ulama penyair itu berusaha merangkumnya dalam serang­kaian puisi indah.

Kebiasaan dalam memuji Rasulullah SAW, memiliki benang merah sejarah yang nyata sejak masa Rasulullah SAW sendiri, yang dilontarkan oleh para saha­bat beliau yang mulia.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, berkata Abbas bin Abdul Muththalib RA, “Izinkan aku memujimu wahai Rasulul­lah..”

Rasul SAW menjawab, “Silakan.., maka Allah akan membuat bibirmu ter­jaga.”


Maka Abbas RA pun memuji dengan syair yang panjang, di antaranya : “… dan Engkau (wahai Nabi SAW) saat hari ke­lahiranmu maka terbitlah cahaya di bumi hingga terang benderang, dan langit ber­cahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu, dan dalam tun­tunan kemuliaan kami terus menda­laminya” (Mustadrak ‘ala shahihain no.5417)
Sementara itu Imam Bushiri dalam Burdah-nya mengatakan, “Dialah sosok yang sempurna makna dan bentuknya, yang kemudian dipilih menjadi kekasih Sang Penghembus Angin Sepoi. Peng­ung­kapan kebaikannya terjaga dari ke­musyrikan, maka mutiara keindahannya tak terbagi. Tinggalkanlah apa yang di­katakan kaum Nasrani tentang nabinya, dan pujilah ia (Rasulullah) semaumu asal masih dalam batasan hukum itu. Maka nisbahkanlah kemuliaan dan keagungan apa pun yang kau kehendaki kepadanya.”

Rasulullah SAW memang manusia biasa, namun beliau telah dipilih oleh Allah SWT untuk dianugerahi berbagai keistimewaan, yang menjadikan posisi beliau di antara umat manusia bak per­mata di antara bebatuan semata.



Seniman Sufi

Sebagaimana maraknya kitab-kitab Maulid dengan untaian bait-bait nan pui­tis, maka demikian pula ingar-bingar du­nia kaum sufi. Lagu-lagu pujian (anasyid) dan tarian sakral (sama’) merupakan hal lumrah, sebagai gambaran cinta Ilahi yang diekspresikan.

Syair merupakan bagian dari seni dan seni itu sendiri dalam kehidupan sufi ke­rap menjadi bagian tak terpisahkan. Ham­pir semua tokoh sufi mencintai, bahkan dengan sendirinya, menjadi praktisi seni. Sebut saja nama Jalaluddin Rumi, se­orang sufi yang seniman atau seniman yang sufi. Ia bukan hanya mencintai seni, melainkan juga menjadi praktisi seni. Ia menguasai berbagai jenis alat musik, mulai dari alat tiup seperti seruling sampai berbagai jenis gendang.

Syair-syair dalam senandung-senan­dung cinta dunia tasawwuf diawali de­ngan puji-pujian terhadap Rasulullah se­bagai perlambang cinta sejati, pun nabi-nabi se­belumnya. Memuji mereka berarti memuji Tuhan yang menciptakan mere­ka. Kese­luruhan paduan indah irama mu­sik, lagu, dan gerakan lembut yang ber­putar me­rupa­kan persembahan suci dan ungkapan rasa ta’zhim yang kemudian meng­hasilkan napas suci dalam kehidup­an ini.

Pembacaan wirid, dzikir, madah, dan beberapa syair yang diambil dari penyair Arab dan Persia, biasanya dilantunkan de­ngan lagu-lagu yang dinyanyikan ber­jamaah. Di Nusantara, pembacaan ber­bagai macam shalawat Nabi, seperti sha­lawat Badar, dilantunkan bak hymne bagi sang junjungan, Nabi Muhammad SAW. Tidak jarang para jamaah meneteskan air mata ketika melantunkan shalawat Nabi tersebut.

Bait-bait yang dilantunkan oleh para penyair sufi memiliki makna eksoterik dan esoterik. Contohnya, antara lain, sebagai berikut, “Wahai eng­kau yang tampil saat bangkitnya lingkaran Yang Tak Terlihat. Wahai engkau yang ber­henti di tenda orang-orang yang dekat di hati. Jangan salahkan aku, wahai pe­meriksa, karena mencintai si cantik de­ngan tubuh mulus. Karena aku tidak pu­nya keterkaitan lain kecuali dengan Dia yang hadir di balik tirai. Harumnya rahasia tercium di taman pertemuan. Dan aroma­nya membuat kami mabuk kepayang.”

Makna esoterik dari “Dia yang ber­hen­ti di tenda orang-orang yang dekat di hati” adalah akal (akal pertama/al-’aql al-awwal), yang oleh para sufi sebagaimana pernah dibahas dalam artikel terdahulu di­sebut makhluk pertama. Karena itu, ia me­rupakan pancaran cahaya yang me­nyatukan semua dunia. “Si cantik dengan tubuh mulus” adalah berbagai keindahan di dunia yang subtil, yakni bidadari yang cahayanya bersumber dari Zat Yang Maha­mutlak. “Harumnya rahasia-raha­sia” adalah manifestasi kasat mata dari kehadiran Ilahi yang bisa memabukkan ka­rena dikaitkan dengan anggur atau Laila, sang kekasih.

Anasyid dan Sama’ sebagai sebuah dzikir yang dilakukan dengan nyanyian, gerak, dan tari, biasanya diiringi oleh alat-alat dan ensembel musik yang lengkap. Musik itu sendiri dalam sejumlah ordo tarekat sebagai bagian dari instrumen dzikir yang ritmenya bisa menggetarkan batin, menambah rasa cinta teramat men­dalam kepada Allah SWT dan Nabi Mu­hammad SAW.



Piawai Bersyair

Habib Ahmad terkenal piawai mem­bangkitkan gairah cinta seseorang ke­pada sang Khalik, juga kepada utusan­nya, Ra­sulullah SAW. Saat memimpin doa, suaranya lembut penuh ha­rap, membuat banyak hati tera­sa disedot oleh kekuatan dahsyat ke da­lam sebuah lingkaran yang berputar ce­pat. Suasana khidmat namun hangat pun menyeruak, menyelimuti peraasan ja­ma’ah.

Dalam mengajar, putra pasangan Ha­bib Abdullah bin Ahmad Al-Kaf dan Sya­rifah Gamar binti Agil Al-Attas ini selalu menyampaikan ilmu-ilmu agama dengan jelas dan terang. Tak bosan rasanya ber­lama-lama mendengarnya berbicara. Se­lalu saja ada hal-hal baru atau pun yang sempat tidak terpikirkan oleh jama’ah di­sampaikannya.

Habib Ahmad juga merupakan salah satu di antara dua belas bersaudara yang menjadi ulama terkenal. Saudaranya yang lain yang menjadi ulama, antara lain, Habib Thohir Al-Kaf, mubaligh kondang di Tegal, Habib Hamid Al-Kaf, pengasuh Pesantren Al-Haramain Asy-Syarifain Pon­dok Rangon, Cipayung, Jakarta Ti­mur, dan Habib Ali, pengasuh Pesantren Riyadlul Jannah, Gg. Bulu, Condet, Ja­karta Selatan.

Sejak kecil ia digembleng dengan ilmu agama oleh ayahandanya yang juga seorang ulama yang dikenal oleh para ulama lainnya. Bukan hanya di Indonesia, di Hadhramaut nama sang ayah juga cukup dikenal.

Habib Ahmad menyelesaikan pendi­dik­an dasar di SDI Al-Khairiyah Tegal, dan mulai 1982 bersekolah menengah di Mesir. Dilanjutkan ke Jurusan Sastra dan Bahasa Al-Quran di Universitas Al-Azhar untuk S-1, dan S-2 dengan jurusan yang sama di Universitas Yordania. Sedang untuk S-3 ditempuh lagi di Jurusan Tafsir Al-Quran Universitas Al-Azhar Mesir, dan lulus tahun 2000 dengan disertasi Pengertian Umat di Dalam Al-Qur’an. Ketika pulang ke Indonesia, ia langsung diangkat menjadi dosen Universitas Islam Negeri Jakarta.

Ia juga menimba ilmu pada Prof. DR. Say­yid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani. Atas restu gurunya itulah, pada  2003 ia mendirikan Pesantren Hikmatun Nuur di rumahnya, yang terletak di Jln. Olahraga I No. 11 RT 15 RW 05 Condet, Jakarta Ti­mur, yang diperuntukkan bagi anak yatim dan fakir miskin. Di rumah itu juga diadakan majelis ta’lim pada hari Sabtu ba’da subuh untuk para santri, dan hari Minggu sore untuk umum.

Selain aktif dalam komunitas habaib, Ha­bib Ahmad juga menjadi anggota De­wan Syariah Majelis Azzikra, pimpinan Ustadz M. Arifin Ilham, dan salah seorang Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Kini, hampir setiap hari, Habib Ahmad sibuk berceramah di berbagai wilayah Jabo­tabek, bahkan hingga ke negeri jiran, Malaysia, memenuhi permintaan jamaah untuk mengajar dan berdakwah.

Agar jamaah pengetahuannya ten­tang sebuah masalah atau hukum leng­kap, tidak sepotong-sepotong, tak jarang di setiap taklimnya ia mempersilakan me­reka untuk bertanya. Bahkan, ia senan­tiasa terbuka bagi umat yang ingin men­curahkan hati atau berkonsultasi menge­nai berbagai permasalahan. Katanya, itu adalah perwujudan cintanya kepada umat. Dan cintanya itu merupakan im­plikasi dari pengabdiannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

Tak mengherankan bila Habib Ahmad begitu dicintai oleh murid-muridnya, yang ti­dak hanya dari kalangan awam. Tapi juga pebisnis, pelajar, mualaf, habaib, bah­kan ia juga guru bagi sejumlah da’i kon­dang seperti Ustadz Jefri Bukhari, Ustadz Arifin Ilham, dan Opik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar