Minggu, 27 Oktober 2013

Syaikh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma

Tanggal 1 Juni 2013 kemarin telah diselenggarakan dengan sukses Haul yang ke-7 Anre Gurutta KH. Syaikh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma di Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan. Siapa sebenarnya beliau?. Berikut kami paparkan mengenai riwayat Syaikh Djamaluddin Assegaf yang kami ambil dari selebaran buletin AL-AHSAN yang dibagikan ketika kami mengunjungi Haul kemarin.
Sejarah mencatat nama KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari lembaran sejarah perjalanan dakwah Islam di Sulsel. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga di era reformasi, sosoknya sebagai ulama yang agung dan ulama yang dituakan tetap melekat pada dirinya.
Artinya, sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini, mulai dari zaman perjuangan kemerdekaan, Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Reformasi, nama KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, senantiasa menyertai aktivitas keagamaan masyarakat (Islam) di deaerah ini. Betapa tidak, jauh sebelum bertumbuh kembangnya organisasi besar keagamaan Islam di Indonesai seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Perserikatan Muhammadiyah, di Sulsel, kiyai yang lahir di "Butta Turikale" Kabupaten Maros 1920, yang akrab disapa Puang Ramma ini, telah aktif melakukan dakwah di berbagai tempat di Sulsel.  
Dari catatan yang kami peroleh, KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, termasuk salah seorang pendiri NU Sulsel. Dia juga termasuk tokoh politik, pendidik dan budaya Sulsel.
Besar kecilnya peran Puang Ramma yang telah dimainkan semasa hidupnya selaku penda'wah. Sejumlah warga mengakui bahwa sosok Puang Ramma, yang wafat tahun 2006 lalu, banyak memberikan pemahaman tentang Islam, meski pada zamannya dahulu, banyak berbenturan dengan berbagai tantangan, termasuk kondisi umat Islam pada waktu itu yang belum memahami nilai-nilai keesaan Allah SWT dan tradisi yang masih kental.
Ketika karier sebagai pendakwah belum menjadi profesi yang banyak dilirik orang, Puang Ramma tampil memposisikan diri sebagai pendakwah yang siap berhadapan dengan problematikan saat itu.
Dengan semangat keihlasan yang dimiliki dan semangat untuk lebih memahamankan Islam kepada umatnya, Puang Ramma, tidak mengenal kata lelah dalam melaksanakan aktivitas dakwahnya, bukan hanya melayani umat di dalam wilayah Kota Makassar, tetapi sampai ke pelosok daerah di Sulsel. Makanya tidak mengherankan jika hingga saat ini banyak ditemukan foto almarhum di rumah-rumah penduduk, di pelosok pegunungan di Sulsel.
Singkatnya, dalam menjalankan dakwah Islam, Puang Ramma, mampu menerobos daerah "hitam" dan "lontang" (tempat masyarakat mi- numam-minuman keras, khususnya ballo/arak).
Dan hasilnya dapat dirasakan hi¬ngga saat ini, bahwa kehadiran sosok Puang Ramma ke pentas dakwah, telah menghantarkan pemahaman pemasyarakat terhadap dunia Islam, yang alhamdulillah kita rasakan hingga ke area peradaban yang serba modern saat ini.
Tidak salah jika Puang Ramma, adalah benang merah perjalanan dakwah di Indonesai. Tentunya situasi¬nya saat ini telah berbeda dengan warna generasi yang baru pula. Dan dari pondasi dasar dakwah yang telah dicanangkannya itu pemahaman Islam generasi saat diharapkan pada tingkat yang lebih mapan lagi .
Lantas apa kiat dakwah yang diterapkan Puang Ramma, dalam menjalankan misi keagamaan yang diembannya kala itu.
Putra Puang Ramma, Syekh Sayyid Abdur Rahim Assegaf Puang Makka, yang ditemui di kediamannya di Jalan Baji Bicara No 7 Makassar, memaparkan teknik dakwah yang diterapkan ayahandanya tersebut.
Syekh Sayyid A Rahim Assegaf, yang akrab disapa Puang Makka, menguraikan bahwa petunjuk yang dipakai almarhum Puang Ramma dalam melaksanakan dakwah, berdasarkan tuntunan Allah SWT, sebagaimana yang disampaikan di dalam kitab suci Al-qur'an Surah Annahl (surat ke 16) ayat 125.
Dalam ayat ini lanjut Puang Makka, bahwa Allah SWT mengajari hambanya tata cara berdakwah yakni dengan jalan hikmah dan khasanah, sebagaimana arti ayat tersebut yang berbunyi" Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan 'hikmah', dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara Ahsan. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan dialah (Allah) yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk".
"Dari kedua konsep ajaran Tuhan itulah Puang Ramma, mampu menerobos daerah hitam dan lontang, dalam menyebarluaskan dakwah Islam, di tengah masyarakat yang masih terkebelakang pendidikan dan wawasan keagamaan" tutur Puang Makka.
Satu catatan yang patut menjadi perhatin dari aktivitas dakwah yang dilaksanakan Puang Ramma, berada pada suatu realitas yang sangat memprihatinkan, selain karena latar belakang sasaran dakwah yang masih terkebelakang, juga diperhadapkan pada situasi medan yang masih sulit dijangkau. Hanya denga niat yang kuat kesemua tantangan dakwah dapat dilewati.
Namun demikian lanjut Puang Makka, berdasarkan al-Qur'an Surat Annahl ayat 125, Puang Ramma mampu melakukan pendekatan se¬cara persuasif tanpa menghilangkan nilai-nilai ajaran Islam yang substansif.
Dengan pendekatan "Bil Hikmah" dan "Khasanah", umat yang dihadapi melalui dakwah Puang Ramma, tidak merasa terbebani dan tidak merasa berat menjalankan syariat Islam, khususnya shalat, lima kali sehari semalam.
"Konsep ini membuat Puang Ramma, lebih lembut, ramah dan lebih santun menghadapi umat pada zamannya dan turut memberikan contoh tingkah laku dari ajara agama yang diajarkan. Ini yang terkadang te¬rabaikan oleh pendakwah, di era kekinian,"kata Puang Makka.
Dan menambahkan dengan konsep khasanah, perbedaan pendapat Puang Ramma dengan pihak lain dalam menjalankan dakwah dihadapinya dengan sopan santun. Perbedaan pendapat pada waktu itu, tidak disikapi dengan kekerasan dikarenakan adanya tuntunan dari Allah SWT, bahwa di dalam melakukan perdebatan haruslah dengan cara Ahsan (cara yang baik).
Keluwesan Puang Ramma menjalankan dakwah, dikarenakan basic ajaran yang dipahaminya begitu dalam. Artinya, sebelum melaksanakan aktivitas dakwah, Puang Ramma, begitu dalam totalitasnya dalam mempelajar ajaran Islam.
Hal tersebut sesuai perintah Al- Qur'an agar umat Islam memasuki Islam secara keseluruhan. Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam yang diperolehnya saat nyantri di Pulau Salemo, menghantarkannya mampu menukik ke dasar ajaran Islam, sehingga dakwah yang dilakukannya memberikan solusi terhadap problematika umat.
"Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam inilah yang membuat dakwah Puang tidak kering, dan mampu berakselerasi dengan per¬kembangan zaman, mulai dari era perjuangan kemerdekaan, hingga memasuki awal-awal reformasi," kata Puang Makka.
Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam, membuatnya mampu melakukan pendekatan terhadap tiga pilar agama yang mulia ini, yakni Islam, Iman dan Ikhsan. Pemahaman Islam dihadapi dengan ilmu fiqhi, Iman dihadapi dengan ilmu qalam dan Ikhsan dilakukan dengan pendekatan ilmu ahlak atau tasawuf.
Bagi puang dalam melaksanakan dakwah senantiasa mendahulukan ahlak yang mulia, sehingga dakwahnya dengan mudahnya diterima masyarakat. Begitu pentingnya ahlak yang mulia ini, Syekh Yusuf yang di¬kenal dengan Hianta Salamaka, menegaskan barang siapa yang tidak berahlak berarti tidak ada tasawuf baginya. "Inilah salah satu konsep dakwah yang dimiliki Puang Ramma.(*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar